SEBATIK – Di sebuah sudut terluar Indonesia, tepat di garis yang memisahkan jengkal tanah Merah Putih dengan negara tetangga Malaysia, kisah haru baru saja terukir. Bagi Pak Hamsah, tinggal di batas terdepan ibu pertiwi selama ini bukan sekadar tentang menjaga kesetiaan pada tanah air, melainkan juga tentang perjuangan bertahan hidup di bawah atap rumah yang hampir roboh.
Namun, bayang-bayang kecemasan itu kini berganti menjadi pendar harapan. Senja yang hangat menyorot rangka kayu yang berdiri kokoh—sebuah rumah baru yang tengah dibangun melalui tangan-tangan sigap prajurit TNI dan warga sekitar.
Negara telah hadir, tidak hanya sebagai garis di atas peta, tetapi sebagai pelindung yang nyata dan menyentuh langsung kehidupan rakyatnya.
Air Mata Haru di Tepi Batas Negara
Selama bertahun-tahun, Pak Hamsah harus menempati Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) dengan kondisi yang amat memprihatinkan. Setiap kali hujan deras turun atau angin kencang berembus dari arah perbatasan, ada ketakutan yang menyelinap. Namun, keterbatasan ekonomi membuatnya hanya bisa pasrah dan berdoa.
Kini, melalui program rehabilitasi RTLH, gubuk lapuk itu dirombak menjadi hunian yang layak, aman, dan bermartabat.
“Saya tidak pernah membayangkan rumah saya yang berada persis di garis perbatasan ini bisa seperti ini. Terima kasih kepada negara dan para tentara yang sudah peduli dengan kami di ujung negeri,” ucap Pak Hamsah dengan mata berkaca-kaca saat menyaksikan rangka rumah barunya berdiri disiram cahaya matahari sore.
Sang Saka Mengibar, Harapan Terbit
Di sudut bangunan baru tersebut, bendera Merah Putih tampak terpasang anggun, berkibar diterpa angin sore. Sorot sinar matahari yang menembus celah-celah kayu seolah menjadi simbol bahwa harapan tak pernah padam di garis terdepan Indonesia.
Bagi warga sekitar, pembangunan rumah Pak Hamsah bukan sekadar urusan memaku kayu dan menyusun seng. Ini adalah bukti nyata bahwa keterbelakangan dan ketertinggalan di daerah perbatasan secara perlahan dihapuskan.
Melalui kehadiran prajurit TNI di lapangan, negara tidak hanya menegakkan kedaulatan wilayah, tetapi juga menegakkan kehormatan dan kesejahteraan jiwa-jiwa yang menjaganya. Kini, Pak Hamsah tak perlu lagi cemas menatap masa depan; di batas negara ini, ia tahu ia tak pernah sendirian.
